IDEN
IDEN

Pangan Lokal Sorgum

Bagi Yayasan KEHATI, ketahanan pangan lokal merupakan bagian penting dari pelestarian keanekaragaman hayati dan kemandirian masyarakat. Karena itu, KEHATI mendorong pemanfaatan sumber karbohidrat lokal seperti sorgum untuk mengurangi ketergantungan pada beras.

Sorgum (Sorghum sp) merupakan salah satu sumber pangan karbohidrat penting dari kelompok serealia yang tumbuh subur di wilayah kering seperti Nusa Tenggara Timur. Tanaman ini tahan terhadap kekeringan, membutuhkan sedikit air, dan memiliki nilai ekonomi serta gizi yang tinggi. Selain menjadi bahan pangan, sorgum juga bermanfaat untuk pakan ternak, bahan bakar energi, dan industri. Kandungan seratnya yang tinggi serta indeks glikemiknya yang rendah menjadikan sorgum sebagai alternatif pangan sehat bagi masyarakat.

Sejak tahun 2014, KEHATI memulai Program Pangan Lokal di Pulau Flores, tepatnya di Kampung Likotuden, Desa Kawalelo, Kecamatan Demon Pagong, Kabupaten Flores Timur, bersama Yayasan Pengembangan Sosial dan Ekonomi Larantuka. Program ini kemudian berkembang ke Pulau Lembata dan Flores bagian Barat, termasuk Kabupaten Manggarai Raya, melalui kemitraan dengan Yayasan Ayo Indonesia.

Hingga akhir 2024, KEHATI bersama mitra telah mengadakan 16 kali pertemuan dengan komunitas desa untuk mempersiapkan penanaman sorgum dan hortikultura. Pada musim tanam Oktober 2024–Maret 2025, luas penanaman sorgum mencapai 20,29 hektar dari target 43 hektar, dengan ketersediaan benih 418 kilogram. Hasil panen berupa sereal sorgum (serela) dibagikan kepada masyarakat untuk meningkatkan gizi pangan keluarga. Pendampingan berlanjut pada April–Juni 2025 di Kecamatan Satarmesse, di mana kelompok tani berhasil memanen sorgum varietas super 1, suri 4, dan lokal.

Memperkuat Petani

Untuk memperkuat kelembagaan petani, masyarakat di wilayah Pantai Utara Manggarai Timur dan Pantai Selatan Manggarai membentuk dua koperasi, yaitu Koperasi Produsen Pangan Cahaya Timur dan Koperasi Produsen Sorum Laut. KEHATI juga memberikan pelatihan kepada kelompok perempuan agar mampu mengolah potensi pangan lokal, seperti jelai, sorgum, talas, singkong, dan sela, menjadi berbagai produk olahan seperti nasi sorgum, popgum, dan kue tradisional bernilai ekonomi.

Peningkatan kapasitas bagi petani dilakukan dengan menyelenggarakan Training of Trainers (TOT) budidaya dan pascapanen sorgum bagi 13 “rasul sorgum” yang menjadi pionir penanaman di Flores. Kegiatan ini menghadirkan Dr. Marcia Pabendon dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan praktisi sorgum Maria Loretha sebagai narasumber.

Hingga Juni 2026, program ini telah melibatkan 304 petani dari 15 desa, melebihi target awal 300 petani. Sebanyak 246 petani telah menanam sorgum di lahan seluas 30,37 hektar dari target 43 hektar, dengan total hasil panen mencapai 15.219 kilogram.

Selain sorgum, tim program juga menanam tanaman konservasi dan hortikultura seperti bambu, mangga, durian okulasi, dan cengkeh sebanyak 200 pohon. Program ini turut berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan di Flores. Pada musim hujan 2024–2025, masyarakat menanam 2.600 bibit bambu di tujuh paroki di Manggarai dan Manggarai Timur, serta 550 bibit tanaman buah dan rempah seperti mangga, durian okulasi, dan cengkeh di sekitar kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) dan sumber mata air.

Melalui kerja sama dengan Yayasan Ayo Indonesia, KEHATI terus memperkuat kemandirian pangan lokal berbasis sorgum di Flores. Upaya ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan petani, tetapi juga menjadi langkah nyata menjaga keberlanjutan sumber daya hayati Indonesia di tengah tantangan perubahan iklim dan krisis pangan global.

Mitra : Yayasan Pengembangan Sosial dan Ekonomi Larantuka, Yayasan Ayo Indonesia