
Bicara tentang pangan dewasa ini identik dengan tanaman padi saja. Ancaman krisis pangan dianggap semakin dekat jika stok beras di Bulog menipis. Padahal bahan pangan lokal tidak hanya beras, ada banyak jenis pangan lokal lain yang bisa mensubstitusi kebutuhan pangan yang selama cenderung seragam.
Menjaga pangan lokal tidak cukup hanya dengan dokumentasikan, sebab jika punah lama-lama hanya akan tersedia di museum saja. Namun harus dengan menanam dan mengkonsumsinya.
Indonesian Society of Botanical Artists (IDSBA) menggelar talkshow bertajuk Bambu dan Pangan Lokal, Warisan Hayati bekerjasama dengan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) di Bentara Budaya Yogyakarta, Minggu (13/7/2025).
Salah satu pembicara Bumdes Argo Inten, Shoim menyampaikan di kawasan bukit menoreh yang memisahkan Kabupaten Magelang, Wonosobo, dan Purworejo dia mencoba mengembangkan pangan lokal bekerjasama dengan Yayasan KEHATI. Selama 2-3 tahun ini mencoba mengidentifikasi berbagai potensi pangan lokal seperti rebung, ubi-ubian, kimpul, dan lainnya.
Pangan lokal ini coba diangkat agar kelasnya bisa sama dengan pangan modern. Berbagai inovasi dilakukan dengan menyelenggarakan berbagai lomba dan juga pelatihan.
Pangan lokal punya peran penting bagi kehidupan masyarakat di perbukitan menoreh. Beberapa perayaan seperti pernikahan masih dominan menyajikan hasil pangan lokal. Namun sayangnya keberadaanya semakin terkikis, jika tidak dijaga lama kelamaan bisa hilang atau punah.
Komunitas ini awalnya muncul dari konflik tambang marmer, dilakukan advokasi pada tahun 2000. Dari mulanya bicara di level konflik, lalu di 2010 sinergi dengan masyarakat sudah mulai dilakukan ke arah konservasi dan ekonomi.
“Konsentrasi bicara pangan lokal baru tiga tahun kebelakang sejak dengan Yayasan KEHATI,” tuturnya.
Tidak Anti Modernisasi
Bumdes Argo Inten konsentrasi di eduwisata, dan mendeklarasikan diri tidak anti pada modernisasi. Bagaimana mengangkat pangan lokal menjadi modern. Bicara kualitas, pangan lokal sudah terbukti sejak zaman nenek moyang dikonsumsi.
Secara ekonomi bisa terangkat dengan pola jejaring dan kolaborasi. Misalnya dengan menggunakan nama-nama produk makanan yang modern namun menggunakan bahan baku pangan lokal.
Kegiatan lomba dengan bahan baku pangan lokal seperti rebung juga kerap digelar agar pangan lokal ini bisa dimodifikasi dan jenis olahannya semakin beragam. Sehingga produknya sudah bisa bersaing bagi tamu-tamu yang berkunjung ke desa wisata.
“Pangan lokal ini harus dilestarikan dan dijaga apalagi generasi saat ini kurang peduli potensi pangan lokal. Harus diingatkan lagi, peran kita mulai dari sini,” ungkapnya.
Tanam 38 Jenis Bambu
Ketua Desa Wisata Bambu Bulaksalak Wukirsari, Eko Wiyarta menceritakan sebelum jadi desa wisata, Dusun Bulaksalak Cangkringan merupakan lokasi penambagan pasir ilegal. Di tanah Sultan Ground (SG) seluas 3 hektar ini pada 2013 dia mulai mengelolanya bersama beberapa kelompok tani hutan. Kini tanah tersebut sudah dikelola oleh 60 kelompok tani.
Saat ini sudah ada 38 jenis bambu yang tertanam di lokasi tersebut. Bambu lokal di iklim tropis punya kualitas yang jauh lebih baik dibandingkan bambu dari negara lain termasuk China. Meski dikenal sebagai negara Tirai Bambu, kebutuhan bambu di China masih banyak disuplai dari Indonesia.
Eko mengatakan beberapa negara datang ke tempatnya khusus untuk belajar terkait bambu. Seperti dari Jepang, Australia, hingga India. Tidak hanya budidaya bambu, ia juga berusaha menggali potensi pangan lokal salah satunya dengan rebung.
Lebih lanjut dia mengatakan kendala utama dalam mengubah lahan bekas tambang adalah merubah mindset masyarakat. Mereka tidak bisa serta merta diajak, namun diberikan contoh dengan mengolah lahan terlebih dahulu. Sampai akhirnya satu persatu turut serta mengolah lahan.
“Tempatnya tiga tahun sudah selesai jadi hutan wisata, kalau merubah mindset orang kita butuh sesuatu yang intens,” ucapnya.
Prihatin Pada Kerusakan Lahan
Laki-laki lulusan SMA A2 ini mengaku mulanya prihatin pada kerusakan lahan yang terjadi akibat ulah manusia. Eko yang punya latar belakang pedagang kayu ini lalu belajar otodidak tentang bambu.
Ia berpandangan bahwa kedepan bambu ini akan menjadi komoditas pengganti kayu. Menanam bambu menurutnya tidak hanya menyelamatkan lingkungan, namun bisa sekaligus menyelamatkan ekonomi.
Saat ini bekerjasama dengan Yayasan KEHATI baru satu kampung yang digarap. Kedepan akan dikembangkan lebih luas lagi, jadi satu kecamatan hingga satu kabupaten. Izin sudah disampaikan ke Bupati agar skalanya bisa diperluas.
“Jadi keprihatinan tanah luas tidak terpakai. Prihatin karena sesuatu yang telah kita rusak sendiri,” katanya.
Warga Gunungkidul Konsumsi Banyak Jenis Pangan Lokal
Pendiri Sekolah Pagesangan, Diah Widuretno mengatakan Kabupaten Gunungkidul sekitar 10-20 tahun lalu dikenal sebagai daerah yang kering, tandus, dan miskin. Berdasarkan hasil kunjungan Sekolah Pagesangan dari rumah ke rumah ternyata warga di sana lebih mandiri pangan.
Ada sistem pangan yang kuat di sana. Saat memasuki ruangan di rumah yang lebih privat banyak ditemukan berbagai jenis pangan lokal yang sudah dikeringkan seperti singkong. Di tata sampai membentuk gunungan setinggi 3 meter. Kondisi yang sama dilakukan oleh banyak keluarga lain.
Proses pengeringan dilakukan selama 5 hari dan bisa bertahan lebih dari setahun. Ini menjadi alasan warga Gunungkidul bisa bertahan di daerah kering, karena menanam berbagai pangan lokal dan mengutamakan keamanan pangan keluarga.
“Beras merah, kadang-kadang hitam, ubi-ubian, garut, kimpul. Jadi ternyata mereka bisa bertahan dari beragam pangan.”
© 2025 All Right Reserved